BAB II
TINJAUAN TEORI
POPULASI DAN
SAMPEL PENELITIAN
A. Populasi
1.
Pengertian Populasi
Menurut Kamus Pelajar terbitan Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003, populasi adalah jumlah orang atau
penduduk dalam suatu daerah; jumlah penghuni baik manusia maupun makhluk hidup
lainnya pada suatu tempat atau ruang tertentu. Populasi menurut Gay (1987:102)
merupakan kelompok tertentu dari sesuatu (orang, benda, peristiwa, dan
sebagainya) yang dipilih oleh peneliti yang hasil studinya atau penelitiannya
dapat digeneralisasikan terhadap kelompok tersebut. Suatu populasi sedikitnya
mempunyai satu karakteristik yang membedakannya dengan kelompok yang lain.
Pengertian lain, menyebutkan bahwa populasi adalah
keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan,
tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai
sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian
(Hadari Nawawi, 1993:141).
Arikunto (2006:130)
menyatakan populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Jika seseorang ingin
meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya
merupakan penelitian populasi atau studi populasi atau sensus. Subyek
penelitian adalah tempat variabel melekat. Variabel penelitian adalah objek
penelitian. Sementara itu Sukardi (2010:53) menyatakan populasi adalah semua
anggota kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama
dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil
akhir suatu penelitian. Di pihak lain, Sisworo dalam Mardalis (2009:54)
mendefenisikan populasi sebagai sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat
kriteria yang ditentukan peneliti.
Jadi dapat disimpulkan
populasi adalah sekelompok manusia, binatang, benda atau keadaan dengan
kriteria tertentu yang ditetapkan peneliti sebagai subjek penelitian dan
menjadi target kesimpulan dari hasil suatu penelitian.
2.
Jenis-jenis Populasi
Menurut Arikunto (2006:130) jika dilihat dari
segi jumlah populasi dapat dibedakan antara lain:
a.
Jumlah terhingga, yang terdiri dari elemen dengan jumlah
tertentu, contohnya:
·
Semua orang yang terdaftar dalam Angkatan Laut pada hari
tertentu,
·
Semua televisi dari tipe yang sama yang diproduksi oleh suatu
pabrik dalam satu tahun tertentu, dan
·
Semua mahasiswa yang terdaftar mengambil matakuliah tertentu.
b.
Jumlah tak hingga, terdiri dari elemen yang sulit dicari
jumlahnya, seperti jumlah penonton sebuah stasiun tv, semua jenis senjata yang
diperbolehkan oleh undang-undang, dan sebagainya.
B. Sampel
1.
Pengertian Sampel
Sampel adalah sebgian atau wakil dari pupulasi
yang diteliti (Arikunto, 2006:131). Mardalis (2009:55) menyatakan sampel adalah
contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian.
Jadi sampel adalah contoh yang diambil dari sebagain populasi penelitian yang
dapat mewakili populasi. Walaupun yang diteliti adalah sampel, tetapi hasil
penelitian atau kesimpulan penelitian berlaku untuk populasi atau kesimpulan
penelitian digeneralisasikan terhadap populasi. Yang dimaksud
menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian dari sampel sebagai
sesuatu yang berlaku bagi populasi.
Adapun keuntungan jika penelitian dilakukan dengan menggunakan
sampel antara lain:
a. Sampel jumlahnya lebih
sedikit,
b. Jika populasi terlalu besar,
khawatir akan ada yang terlewatkan,
c. Lebih efisien,
d. Penelitian populas
bisa bersifat merusak,
e. Penelitian populasi
bisa terjadi ketidak akuratan data, dan
f. Lebih memungkinkan.
(Arikunto, 2006:133)
(Arikunto, 2006:133)
2.
Kriteria Sampel Representatif
Sampel yang representatif
adalah sampel yang benar-benar dapat mewakili dari seluruh populasi. Jika
populasi bersifat homogen, maka sampel bisa diambil dari populasi yang mana
saja, namun jika populasi bersifat heterogen, maka sampel harus mewakili dari
setiap bagian yang heterogen dari populasi tersebut sehingga hasil penelitian
dari sampel dapat terpenuhi terhadap setiap anggota populasi.
Menurut Arikunto
(2006:133) kita boleh mengadakan penelitian sampel bila subyek didalam populasi
benar-benar homogen. Apabila subyek populasi tidak homogen, maka kesimpulannya
tidak boleh diberlakukan bagi populasi. Sebagai contoh populasi yang homogen
adalah air teh dalam sebuah gelas. Kita ambil sampelnya sedikit dengan ujung
sendok dan kita cicip. Jika rasanya manis, maka kesimpulan dapat
digeneralisasikan untuk air teh keseluruhan dalam gelas. Berarti kesimpulan
bagi sampel berlaku untuk populasi.
Populasi atau sampel
dapat berupa makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuhan dan dapat pula
berupa benda mati atau benda tak hidup, seperti gejala alam, air, tanah, udara,
nilai dan sebagainya. Populasi mempunyai berbagai sifat, seperti ada populasi
yang homogen, bertingkat, berkelompok dan sebagainya. Oleh karena itu timbul
pula berbagai macam teknik pengambilan sampel.
Pengambilan sampel
harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar
dapat menggambarkan keadaan populasi yang sesungguhnya atau dapat juga
dikatakan sampel haruslah representatif (mewakili) populasi. Menurut Nasution
(1987:115) memilih suatu jumlah tertentu untuk diselidiki dari keseluruhan
populasi disebut sampling.
Jadi, dapat disimpulkan syarat data sampel yang baik, yaitu:
·
Obyektif (sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya),
·
Representatif (mewakili keadaan yang sebenarnya),
·
Memiliki variasi yang kecil, dan
·
Tepat Waktu dan Relevan.
3. Teknik Penentuan Sampel
a.
Sampel Acak/Sampel Random/Sampel
Campur
Syarat pertama yang harus dilakukan untuk
mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel
atau dikenal dengan nama “sampling frame”. Yang dimaksud dengan kerangka
sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil
sebagai sampel. Elemen populasi bisa berupa data tentang orang/binatang,
tentang kejadian, tentang tempat, atau juga tentang benda. Jika populasi
penelitian adalah mahasiswa perguruan tinggi “A”, maka peneliti harus bisa
memiliki daftar semua mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi “A “
tersebut selengkap mungkin. Nama, NIM, jenis kelamin, alamat, usia, dan
informasi lain yang berguna bagi penelitiannya.. Dari daftar ini, peneliti akan
bisa secara pasti mengetahui jumlah populasinya (N).
Jika populasinya adalah rumah tangga dalam
sebuah kota, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh rumah tangga kota
tersebut. Jika populasinya adalah wilayah Sumatera Barat, maka penelti harus
mepunyai peta wilayah Sumatera Barat secara lengkap. Kabupaten, Kecamatan,
Desa/Nagari/Kelurahan, Kampung/Jorong/Korong. Lalu setiap tempat tersebut
diberi kode (angka atau simbol) yang berbeda satu sama lainnya.
Di samping sampling
frame, peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan penentu sampel.
Dari sekian elemen populasi, elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel.
Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random, kalkulator, atau undian.
Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen
populasinya tidak begitu banyak. Tetapi jika sudah ratusan, cara undian bisa
mengganggu konsep “acak” atau “random” itu sendiri.
1) Simple random sampling
atau sampel acak sederhana
Cara atau teknik ini
dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat
umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen
populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Misalnya,
dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada
manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Selama perbedaan
gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta
perbedaan-perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti
dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur
populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel.
Prosedurnya :
a)
Susun sampling frame,
b)
Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil,
c)
Tentukan alat pemilihan sampel, dan
d)
Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi.
2) Stratified random
sampling atau sampel acak distratifikasikan
Karena unsur populasi
berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang
signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil
sampel dengan cara ini. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui sikap
manajer terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat
atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat
menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para
manajer tingkat atas, menengah, dan bawah.
Dengan teknik
pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh
manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer
menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak.
Prosedurnya :
a)
Siapkan sampling frame,
b)
Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang
dikehendaki,
c)
Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, dan
d)
Pilih sampel dari setiap stratum secara acak.
Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum,
peneliti dapat menentukan secara
·
proposional : adalah jumlah sampel
dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum
tersebut.
·
tidak proposional.
Jumlah dalam setiap stratum
tidak proposional. Hal ini terjadi jika jumlah unsur atau elemen di salah satu
atau beberapa stratum sangat sedikit. Misalnya saja, kalau dalam stratum
manajer kelas atas (I) hanya ada 4 manajer, maka peneliti bisa mengambil semua
manajer dalam stratum tersebut , dan untuk manajer tingkat menengah (II)
ditambah 5, sedangkan manajer tingat bawah (III), tetap 63 orang.
3) Cluster sampling atau sampel gugus
Teknik ini biasa juga
diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan
teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur
dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen (stratum A : laki-laki
semua, stratum B : perempuan semua), maka dalam sampel gugus, setiap gugus
boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen.
Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap
departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda
jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda
tingat manajerialnnya, dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Jika peneliti
bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi
yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster
sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen
saja.
Prosedur :
a)
Susun sampling frame berdasarkan gugus (dalam kasus di atas, elemennya
ada 100 departemen),
b)
Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel,
c)
Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak, dan
d)
Teliti setiap pegawai yang ada dalam gugus sample
4) Systematic Sampling
atau Sampel Sistematis
Jika peneliti
dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil
data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara
ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis,
yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”.
Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal “keberapa”-nya
satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada ukuran populasi dan
ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang
akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu,
kedua, dan seterusnya adalah 25.
Prosedurnya :
a)
Susun sampling frame,
b)
Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil,
c)
Tentukan K (kelas interval),
d)
Tentukan angka atau nomor awal di antara kelas interval tersebut
secara acak atau random (biasanya melalui cara undian saja),
e)
Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal
yang terpilih
f)
Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya.
5) Area Sampling atau
Sampel Wilayah
Teknik ini dipakai
ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar
di berbagai wilayah. Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV
ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Jawa Barat atas sebuah mata
tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat.
Prosedurnya :
a)
Susun sampling frame yang menggambarkan peta wilayah (Sumatera
Barat, Kabupaten, Kota, Kecamatan, Desa),
b)
Tentukan wilayah yang akan dijadikan sampel (Kabupaten, Kota,
Kecamatan, Desa),
c)
Tentukan berapa wilayah yang akan dijadikan sampel
penelitiannya,
d)
Pilih beberapa wilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak
atau random,
e)
Kalau ternyata masih
terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi wilayah yang
terpilih ke dalam sub wilayah.
6) Double Sample atau sampel kembar
Sampel kembar adalah
dua sampel yang diambil sekaligus oleh peneliti dengan tujuan untuk melengkapi
jumlah apabila data yang tidak masuk dari sampel pertam, atau untuk mengadakan
pengecekan terhadap kebenaan data daroi sapel pertama. Biasanya sampel pertama
jumlahnya sangat besar sedankan sampel kedua yang untuk mengecek, jumlahnya
tidak begitu besar.
b.
Sampel Berstrata
(Nonprobability/Nonrandom Sampling Atau Sampel Tidak Acak)
Seperti telah
diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua
unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi
sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena
kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh
peneliti.
1) Convenience sampling atau
sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan.
Dalam memilih sampel,
peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja.
Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau
kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis
menggunakan istilah accidental sampling (tidak disengaja) atau juga captive
sample. Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian
penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya
diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis
sampel ini, hasilnya ternyata kurang obyektif.
2) Purposive sampling
Sesuai dengan namanya,
sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu
diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu
tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Dua jenis
sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling.
a) Judgment sampling
Sampel dipilih berdasarkan
penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan
sampel penelitiannya.. Misalnya untuk memperoleh data tentang bagaimana satu
proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer produksi
merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi. Jadi, judment
sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka
mempunyai information rich.
b) Quota sampling
Teknik sampel ini
adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak
dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja.
3) Snowball sampling atau
sampel bola salju
Cara ini banyak
dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia
hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan
sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada
sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan
sampel.
DAFTAR PUSTAKA
Mardalis. 2009. Metode
Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi, Arikunto.
2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik): Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi. 2010. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.